Pages

Rabu, 19 November 2014

Milik ku



Djakarta,
Senin, 31 January

 19.15 WIB
Ditempat yang sama, ditanggal dan waktu yang sama, setiap tahunnya aku pasti selalu datang kemari. Seperti tahun-tahun sebelumnya pula, aku masih menunggu kamu disini...
Angin bertiup sedikit kencang malam ini, dingin sekali rasanya. Untung saja aku masih memakai blazer kerjaku malam ini… Milo panas yang kupesan sudah habis setengah, tapi kamu belum juga datang.
Aku menghela nafas sambil sesekali melihat hp-ku. Tidak ada sms/tlp dari kamu. Aaahhh, aku bisa saja menelfonmu, itupun jika aku tahu nmr hp mu. Semenjak terakhir kita bertemu, no mu sudah tidak bisa lagi kuhubungi. Entahlah, semua usaha sudah aku lakukan supaya bisa menghubungimu kembali. Tapi kamu seperti hilang ditelan bumi, bahkan teman-temanmu saja tidak tahu kamu ada dimana, atau mereka sengaja melakukannya ?  aku tak mau berburuk sangka padamu. Semoga kamu baik-baik saja…

20.10 WIB
Milo panas yang kupesan sudah hampir habis, mungkin 2 atau 3 teguk lagi, hmmm…perutku mulai terasa lapar, akhirnya aku memesan dua potong kue lapis Surabaya, ahhh, kue manis ini, memang kue favoritku sejak dulu, juga kue kesukaanmu tentu saja…

22.05 WIB
Aku sudah membayar bill untuk semua makanan & minuman yang aku pesan, dan sampai saat ini, kamu belum juga datang, kamu tahu ? sebentar lagi café ini akan tutup ?. 
Tiba-tiba saja, rasa sakit itu kembali menyelimuti hatiku. Apakah kamu sudah benar-benar melupakan aku ??? sekuat hatiku, aku menahan air mata yang sebentar lagi akan mengalir deras dipipiku. Tidak, kamu tidak akan melupakan aku…dimanapun kamu, aku tahu kamu akan selalu ingat aku..itu kata-kata yang berulang kali selalu kuucapkan…kamu pasti akan datang…pasti…

22.45 WIB
Sambil menyeka airmataku, aku berjalan keluar dari café ini, tempat dimana seharusnya kita bertemu setiap tahunnya. Dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kamu tidak pernah datang menepati janjimu…kenapa ???
Dimeja yg kududuki tadi, kutinggalkan catatan kecil untukmu…

“ Aku datang… seperti yang sudah kujanjikan J , dan ini yang terakhir…maafkan aku…“




Borneo
Senin, 31 January

23.00 WITA
“Lho mas, kamu kok masih disini ? duduk bengong bengong sendirian di guest room,  gak jadi pulang ke Jakarta ? ” suara rama membuyarkan lamunanku.
“Gak jadi ram, aku batalkan saja” jawabku sambil membuang rokokku yang sudah hampir habis.
“Aneh mas Adam ini, sudah lama sekali mas gak pulang ke Jakarta,bukanya tiket juga sudah beli ? kok dibatalkan”  rama duduk didepanku lalu menyalakan rokoknya.
“Gak apa ram, aku bisa pulang besok-besok kok, kerjaanku masih banyak ternyata”
“hahaha, mas, kita ini kerja jauh dipedalaman, sekali-sekali perlu lah lihat kota, nanti kalau jadi lupa Jalan pulang bagaimana ? emang gak ada yang nungguin di Jakarta ? ”
“ah, siapa yang nungguin aku ram, gak ada, sudah ya aku ngantuk mau tidur dulu”. Jawabku sambil berlalu menuju kamarku di lantai 2.

23.10 WITA
Kubuka kembali kotak coklat dihadapanku ini, yang isinya sebagian besar adalah surat-surat yang harusnya kukirimkan untuk kamu. Tapi nyatanya, semua masih tersimpan disini. Surat yang isinya tentang kemarahanku, kerinduanku, kekecewaanku, dan juga pengharapanku yang besar untuk kamu. Tapi semuanya, seolah tak berguna lagi.
Satu per satu surat-surat itu kulihat kembali, sampai akhirya ditumpukan paling bawah, aku menemukan undangan ini. Ya, undangan pernikahanmu…
Bodoh sekali aku, mengharapkan wanita yang sudah jadi milik orang lain !. cih, aku mengutuki semua kebodohanku bertahun-tahun ini. Untuk apa aku memikirkanmu lagi ? pasti kamu pun tidak mengingat aku lagi. kamu sudah bahagia dengan pria lain ! kamu sudah mencampakkan aku ! bodoh sekali aku !
Saat aku sedang merapihkan kembali surat-surat ini, bunyi notifikasi bbm mengejutkanku, siapa yg mengirimkan bbm selarut ini tanyaku dalam hati.
“Hai Dam, dia datang malam ini, dia juga minggalin pesen buat lo nih” owh, Tio, ya, tio adalah temanku, yang sudah 1 tahun ini bekerja sebagai Manager di café tempat seharusnya kita bertemu.
“dia tinggalin pesan apa ?” balasku, ah, seharusnya aku tak perlu menanyakan hal ini, tapi entah kenapa rasa penasaran itu membuatku begitu ingin tahu.
“dia bilang dia datang seperti yang sudah dijanjiin, dan ini yang terakhir, ah gila lo, gak kasian sm dia nunggu lo selama itu”
Apa ? kasian ? menaruh kasihan untuk wanita yang menyakiti hati ini ?
“thanks yo, gw yakin dia udah bahagis sm suami & keluarganya sekarang ini” aaah, benci sekali aku harus mengatakan hal yang seperti ini

23.40 WITA
Tak lama setelah semuanya rapih, notifikasi bbm di hpku kembali berbunyi.
Tio lagi ? sedetik kemudia setelah ku baca, isi bbm tio tak ubahnya seperti hantaman keras di dada ini.
“gw lupa tanya,lo udah tau blm sih ? dlu dia batalin rncana pernikahannya ? gw juga br tau mlm ini,  jangan bilang lo blm tau”
Tak perlu waktu lama langsung saja ku tlp tio, tio menjelaskan bahwa 3 hari sebelum pernikahanmu, kamu membatalkan semuanya, kamu mencari aku tapi aku sudah pergi dari Jakarta, kamu begitu kesusahan mencari jejakku dikantor lama, begitu juga teman” dan keluargaku, aku memang meminta mereka untuk merahasiakan dimana aku saat ini. Kamu bercerita semuanya ketika tio mengaku bahwa dia mengenalku tahu dimana keberadaanku.
Rasa sesak yang aku rasakan semakin menjadi saat kamu tahu tio adalah sahabatku dan mengetahui keberadaanku, hanya kata seperti ini yang kamu ucapkan…
“tolong sampaikan maaf saya dan pesan yang saya taruh di atas meja” sambil tersenyum kemudian pergi berlalu…



Disudut Djakarta, malam ini, ada seorang gadis yang mengiringi tidurnya dengan tangis sambil berucap...

Menjadi apapun kamu dalam hidupku…
Kamu sudah memiliki porsi tersendiri dihati ini…
Kamu sudah menuliskan cerita tersendiri dihidup ini…
Jalani saja…
Menyatu tidak harus bersatu dalam  ikatan…
Cukuplah hanya batin yang terikat kuat…
Aku percaya…dan akan selamanya meyakini…
Kamu “milik ku” sebagai apapun itu…











0 komentar: