Pages

Selasa, 08 Juli 2014

Kami berhak bahagia



Postingan kali ini, gw akan ngebahas soal yang agak sensitif mengenai hubungan anak dan orang tua. Dan gw mau bilang, bahwa anak yang broken home/kehilangan salah satu orang tua atau bahkan keduanya dan dia tetep bisa fight itu anak yang luar biasa. Kalian yang masih memiliki orang tua utuh (Ibu , Ayah) dan hidup harmonis, ga akan bisa membayangkan seperti apa rasanya, beberapa bulan yang lalu gw pun masih hidup diposisi yang seperti itu. tapi, inilah hidup, Allah sudah menuliskan Jalan cerita lain buat gw dan Bapak.

Ga ada yang lebih seorang anak inginkan selain hidup bahagia & tenang dengan kedua orang tuanya, keluarganya. Tapi kadang kenyataan hidup berkata lain, anak sering kali dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Contohnya ? perceraian, momok yang menakutkan bagi seorang anak. Biasanya, anak akan berfikir bahwa jika orang tuanya bercerai maka kedua orang tuanya tidak menyayanginya lagi. Betul kan ? kebanyakan yang terjadi adalah seperti itu. walau ga semua perceraian berakhir buruk, gak semua, tapi, kalau boleh memilih, anak mana yang mau kehilangan orang tuanya ??? Entah kehilangan dalam arti sebenarnya, atau hilang karena “perceraian”.

Dalam case gw memang bukan perceraian yang gw hadepin, tapi sungguh itu rasanya sakit sekali.  Gw dihadapkan pada rumor yang mengisyaratkan kalo Bapak mau nikah lagi ! what ??? otak gw langsung berputar membayangkan, berapa umur Bapak ? kenapa Bapak bisa gitu ? dan ini dan itu, dan soal lainnya begini begitu. Jujur aja, saat itu semua yang gw pikirin adalah hal yang negative, dan rasa sakit ? jelas banget terasa, belum ada 1 tahun mamah pergi ninggalin kami, da n ada rumor yang kaya gitu ??? hati anak mana yang gak hancur ? kaya lo punya luka terbuka yang malah ditaburin garam diatasnya. Pediiiiiih !
Perasaan marah itu melekat dalam hati gw selama beberapa hari, walaupun begitu gw mencoba untuk berfikir jernih dan tetap berkata santun sama Bapak Cuma Bapak orang tua 1 1 nya yang gw punya, Surga mana lagi yang gw harepin kalo bukan Bapak ? mau ga mau akhirnya semua unek” dihati gw gw ungkapin, gw gam au ada orang lain, gw mau hidup bahagia dan tenang udah sama Bapak aja, dan ketika gw nikah nanti gw mau Bapak bisa hidup sama gw, udah ! ga perlu ada orang lain lagi. Gw jungkir balik mencoba mencukupi segala kebutuhan hidup kami. Walau gak seberapa dan ga akan bisa balas semua jasa Bapak selama ini, gw mencoba menjadi anak yang bisa selalu diandalkan, gw selalu berusaha agar Bapak ga ngerasa sendiri dan kesepian, walaupun gw sendiri sering ngerasa kosong dan sepi, gw gak mau Bapak kaya gitu, gw mau masa tua Bapak dilalui dengan tenang tanpa beban pikiran dan rasa kesepian.

Akhirnya masalah itu clear dan Alhamdulillah, segala pikiran buruk gw gak kejadian. Seharusnya memang gw ga boleh berfikir buruk tentang rencana Allah, Allah itu seperti yang kita prasangka-kan. Jika kita berprasangka baik, maka Allah akan memberikan yang baik. Tapi jika kita berprasangka yang buruk, maka Allah bisa saja memberikan yang buruk. Allahu a’lam…itu yang gw pikirkan.

Kejadian yang sama pun dialami sama temen gw, kita sebut aja namanya si ndut. Gw bersahabat sama dia udah kurang lebih 5-6 tahun. Si ndut ini temen laki-laki gw yang paling ngerti gw, gw anggap dia udah kaya saudara sendiri. Baru aja masalah gw selesai, ternyata dia pun mengalami hal yang sama. Dia harus dihadapkan pada rumor bahwa Ibunya akan menikah lagi, dan kalau terjadi ini adalah pernikahan nya yang ke 3. Lebih parahnya lagi, si ndut ini sudah menangkap basah aroma pernikahan itu dari SMS di Hp Ibunya. Dia yang selama ini gw kenal tegar dan selalu bisa bertahan menghadapi berbagai masalah hidup akhirnya ambruk juga, kalau Jalan cerita hidup, gw boleh dibilang lebih beruntung dibandingkan dia. Si ndut sudah ditinggalkan Bapaknya sedari kecil, kemudian Ibunya menikah lagi dan punya seorang adik laki-laki. Tapi entah apa yang terjadi dengan pernikahan ke dua Ibunya, akhirnya si Bapak pergi meninggalkan Ibu, Adik, dan juga si Nduut. Hingga akhirnya dia harus menghadapi kenyataan bahwa sekarang Ibunya punya renacana akan menikah lagi. Walapun gw udah menasihati dia dan mencoba membuat hatinya tenang, tapi dia belum bisa berfikir baik, gw ngerti dan ga mau memaksakan apapun itu. dia sudah dewasa dan gw yakin dia pun pasti bisa melewati ini semua. Ndut adalah anak laki-laki yang bertanggung jawab, dia mengorbankan masa mudanya, mengorbankan waktu bermainnya, segala kesenangannya untuk berjuang hidup. Semestinya kelak dia bisa dapat kehidupan dan kebahagiaan yang pantas. 


Segala cerita dipostingan ini bukan bermaksud membuka aib keluarga gw, keluarga ndut, ataupun mungkin orang diluar sana yang punya cerita hidup yang mungkin saja hampir sama seperti kami, ga ada niat untuk menyakiti. Maaf…semoga ada hikmah disetiap kejadian…walaupun sulit, walaupun sakit…kita pasti akan bisa bertahan, ia kan ???


Ibu…Bapak…kami hanya inginkan cinta…berikanlah kami ketenangan hati menjalani hidup ini…tak perlu harta melimpah untuk membuat kami bahagia…cukup dengan selalu ada dan menjadi tempat kami kembali…menjadi ladang amalan kami, tabungan kami di hari akhir nanti…cintailah kami sepenuh hati…





0 komentar: