Pages

Senin, 10 Maret 2014

Ujian dan kasih sayang



Allah, tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya…

Setelah kepergian mamah, segalanya berubah, ya…berubah…aku, yang sebelumnya sangat dimanjakan oleh mamah dan bapak, harus siap mengambil semua tanggung jawab dikeluarga ini. Bukan karena bapak ga bisa mengurus rumah dan lainnya, tapi, sebagai anak, ini memang kewajibanku. Memang dari pernikahan sebelumnya bapak sudah memiliki beberapa orang anak, tapi mereka semua, kakak kakak sudah memiliki kehidupan masing-masing. Bukan berarti tidak perduli dengan bapak, tapi keadaan yang membuat mereka semua ga bisa selalu ada didekat bapak.
Aku anak bapak & mamah 1 1 nya yang paling terdekat, yang sedari kecil hidup bersama mereka, dan ini lah saatnya aku mengambil tanggung jawab untuk keluarga.

Tetesan air mata, kadang masih saja membasahi pipi ini. Bukan menyesali kepergian mamah, bukan…aku, dan bapak, Insyaallah sudah ikhlas, toh 1 per 1 dari kita pun kelak, cepat atau lambat akan menghadap Allah…tua, muda, miskin, kaya…semua yang hidup pasti akan mati…
Tapi memang kami masih membuatuhkan waktu untuk beradaptasi hidup tanpa mamah…sepi…itu yangs sering aku rasakan, kalau sudah begitu…aku hanya bisa mengirimkan hadiah indah untuk mamah berupa doa, semoga Allah selalu menyayangi mamah…memberikan surganya menerima amal ibadahnya dan mengampuni semua dosa”nua…selalu itu yang aku pinta…

Banyak hal yang baru aku tahu tentang mamah setelah mamah pergi, Alhamdulillah 1 per 1 itu semua adalah cerita baik. Dan yang membuat aku semakin menyayangi mamah setelah kepergiannya, bahwa mamah adalah betul” perempuan hebat ! I love u so mamah…
Dulu, selagi mamah ada, jadwal pulang kerumah hanya 2 minggu 1 kali, bahkan bisa 1 bulan hanya 1 kali. Tapi setelah mamah ga ada, jadwal pulang berubah jadi setiap minggu, apapun itu, prioritas hidupku sekarang berubah. Bapak menjadi no 1…


Jumat kemarin, setelah jam pulang kerja , aku bergegas menuju kost. Hanya untuk menukar tas lalu bersiap pulang kerumah. Bapak, dari beberapa hari sebelumnya sudah wanti”, kalu aku pulang, biar bapak saja yang jemput di merak, ga enak, merepotkan keluarga yang lain, kalau malam” jemput.
Aku ia kan keinginan bapak, aku piker, ya sudah lama juga bapak ga pernah jemput kalo aku pulang.
Tepat jam 9 kurang 10 menit, bis yang aku naiki sampai diserang, lalu akupun menelfon bapak, perkiraan kami, kalau aku sampai merak, bapak juga sudah sampai merak, perjalanan dari rumahku ke merak menggunakan motor sekitar 30 menit (karna bapak bawa motor pelan”). Jam 9 lewat 20 menit, bapak telfon, aku heran dan kaget juga, lho ? masa bapak sudah sampai merak ???
Dan ketika aku angkat telfon dari bapak, Astagfirullah…kabar yang kurang baik yang aku dengar, bapak kecelakaan dijalan, Alhamdulillahnya ga parah, hanya luka” kecil, tapi tetap saja itu membuat aku sangat hawatir. Bapak ditolong orang pemilik bengkel dekat tempat bapak kecelakaan. Sedih, kasihan, hawatir, semuanya jadi 1.

Aku menyusul bapak ke bengkel tsb, begitu aku sampai aku langsung menanyakan dan melihat keadaan bapak, ya Allah sediiiih rasanya…melihat bapak luka”, baju dan celananya kotor semua kena lumpur…lalu kami pulang…pelan” aku bawa motor bapak…sampai dirumah, jam 11 malam, bapak langsung membersihkan diri dan luka”nya, aku keluar rumah membeli lauk untuk makan.
Makan malam kami malam itu rasanya penuh rasa sedih…makan malam berdua sama bapak dan sambil melihat melihat bapak kesusahan makan karna badannya penuh luka, dan juga sambil menahan rasa sakit, rasanya hati ini sakiiit sekali…
Kalau saja mamah amsih ada, mamah pasti benar” hawatir, entah seperti apa reaksi mamah, aku sedih membayangkan itu. Andai saja…tapi kenyataannya ketika sampai dirumah hanya ada aku dan bapak, rumah ini terasa begitu sepi tanpa mamah…


Kenapa cobaan ini datang berturut” ? belum sembuh rasanya sakit kehilangan mamah, melihat keadaan bapak yang seperti itu rasanya hati ini menjadi kebas…karna berkali” merasakan sakit dalam waktu yang singkat…
Saat dirumah, aku benar” hanya mengurusi bapak saja, semua kepentinganku ga penting lagi, semua kebutuhanku bukan lagi yang no satu, yang aku pikirkan hanya apa yang bapak mau, apa yang bapak butuhkan, apa yang membuat bapak bahagia. Semaksimal mungkin aku selalu ada buat bapak, ga mau bapak merasa sendiri dan kesepian.
Aku mengurus rumah, mengurus semua kebutuhan bapak, jujur rasanya memang melelahkan sekali. Terbayang dulu mamah harus mengurus anak yang manja seperti aku, mengurus bapak juga, mengurus rumah, juga mamah berjualan mencari nafkah. Mamah yang luar biasa…

Yang sebelumnya aku masuk dapur hanya untuk mengambil makanan dan mencuci piring saja, sekarang aku harus berkutat didapur memasak untuk bapak, dengan segala kebodohanku, aku berusaha memasak untuk bapak, belajar kelak ketika aku menjadi ibu rumah tangga, aku akan menjadi istri dan ibu yang dicintai oleh keluarga, sama seperti mamah…dan bapak, mamah, bisa bangga punya anak seperti aku.
Aku...seolah “dipaksa” oleh keadaan, harus dengan cepat bisa menguasai semuanya, harus bisa mengangani semua hal…
Waktu aku sibuk memasak didapur, dengan kaki yang masih terpincang pincak bapak datang menghampiri lalu mengodaku
“bau apa ini kecium selening-selening sampe ke tempat nntn tv” kata bapak sambil tertawa
“masak pak, oseng kangkung”  kataku sambil tertawa juga
Bapak seperti tak percaya lalu berkata
“emang bisa masak ? hahaha…masak apa aja ? yaudah bapak tunggu matengnya ya ?”
“tenang aja pak, bisa masak dooong, pipit masak tempe goreng, oseng kangkung sama ayam fillet goreng tepung” kataku menjawab sambil tersenyum
Aku lihat dimata bapak ada kesedihan, dan juga bahagia, aku tahu,bapak pun masih belajar beradaptasi dengan semua ini…

Minggunya, seperti biasa aku bersiap kembali ke Jakarta. Memang kalau keluarga sedang tidak sibuk, mereka semua setelah mamah ga ada lebih memilih kumpul dirumahku. Yaaa…kasihan juga mungkin sama bapak takut kesepian…
Bapak sempat berkeluh kesah, aku harus kembali lagi kejakarta tapi kaki bapak masih pincang dan bengkak, aku ga putus”nya menyemangati bapak. Alhamdulillah bapak bisa semangat lagi…
Sampai dikosan,  aku langsung mengabari bapak, kami sempat berbincang” sebentar sebentar. Malamnya, aku menelfon bapak lagi, dirumah ada bibi dan juga sepupu yang menemani bapak. Alhamdulillah, tenang rasanya bapak selalu ada yang menemani,

Hari sudah larut, aku bersiap pergi untuk tidur, selang beberapa jam tidur, aku mendengar hpku berdering, aku sempat berpikir, ah masa sudah pagi ? ko rasanya tidur baru sebentar saja, memang setelah mamah ga ada, aku sulit sekali tidur cepat, selalu tidur jam 11/12 malam. Ah, mungkin ini memang sudah subuh, pikirku, dan bapak membangunkan shalat subuh. Tetapi ketika aku terima tlp dari bapak, Altagfirullah…lagi” berita yang tidak menyenangkan, rumahku terkena banjir lumpur dari gunung. Dan ketika bapak menelfon aku, itu sekitar jam ½ 4 pagi. Alhamdulillahnya ada sepupu” yang tidur dirumah dan membantu bapak, tetangga dan juga pak lek juga membantu membersihkan dan membenahi rumah.
Dari jam 2 pagi mereka membersihkan rumahku yang terkena banjir lumpur dari gunung.
Keadaan bapak hari ini lebih baik, hanya luka”nya masih terasa nyut”an saja, tapi sudah kering.
Akhirnya, hari ini kami memanggil petukang untuk membuat tanggul diatas rumah dan meminggikan pembatas tembok belakang.

Ya Allah…aku tahu engkau sedang menguji kami dengan kehilangan, menguji kami dengan kesabaran…semoga saja kami…tak pernah lupa kepadaMu ketika mendapat cobaan’ itu, dan tak pernah bosan meminta, memohon segala kebaikan atas hidup kami padaMu ya Rabb…serta tak lagi menjauh dariMu…ujian darimu adalah tanda bahwa kau tak melupakan kami..

Karena engkau ya Allah…maha pengasih, dan juga engkau ya Allah…maha penyayang…maka kasihilah kami Rabb…sayangilah kami…Aamiin Aamiin Allahuma Aamiin…



0 komentar: