Pages

Selasa, 24 Desember 2013

Tentang "dara"



Kita sebut saja perempuan dihadapanku ini Dara…

Umurnya tak jauh beda denganku, gadis manis yg kini, telah kehilangan senyumnya (entah sampai kapan). aku sudah menganggapnya seperti saudara perempuanku sendiri, diantara sekian banyak teman wanita, dialah yang terbaik. Dia tak pernah mengeluhkan semua tingkah polahku yang menyebalkan, dan segala kesalahan yg pernah kulakukan atas hidupku dia selalu menerimaku apa adanya. Tak pernah mengatahan aku salah, tak pernah menghakimiku, dan aku begitu menyayanginya. Bukankah Itu lebih dari cukup untuk menjadi seorang sahabat yang terbaik ? J

Dia duduk disampingku, kemudian menggengam erat sekali tanganku, lalu merebahkan kepalanya dipangkuanku. Aku terdiam, entah kenapa sesak sekali rasanya dadaku ini. Aku tahu, ada sesuatu yang salah…kutundukkan wajahku, kulihat air mata mengalir deras keluar dari pelupuk matanya. Ku belai lembut kepalanya…
Dara menarik nafas panjang kemudian bangun dan menyandarkan kepalanya dipundak ku.
“mereka bilang aku jahat…..”
Aku terdiam, tak mengerti apa maksud perkataannya,
“siapa yg bilang kamu jahat ra ?” jawabku
“mereka pit, keluarga mas Ara…mereka bilang aku perempuan jahat” lalu tangisnya meledak dipundakku.
Aku diam, tak mengerti apa maksud perkataan dara, setahuku, dara dan ara sudah berpacaran selama beberapa bulan. Dan dara tak pernah bercerita apapun mengenai hal” yang buruk tentang keluarga ara, yang aku tahu, dara bahagia bersama ara. Seminggu sebelum hari ini, aku bertemu dengannya, dan dia terlihat bahagia sekali, dia bercerita dia menghabiskan minggu yang menyenangkan bersama ara. Lalu kini ???
Aku bangun dari duduk ku, kemudian kuambilkan tissue untuk dara, lalu duduk dihadapannya.
“kamu kenapa sih ra ? aku ga ngerti, apa yang kamu omongin ? siapa yg jahat ? kamu ? kenapa bisa ?”
Pertanyaanku yg bertubi” malah membuat air matanya semakin deras mengalir. Lalu kupeluk dia.
“daraaa…aku disini, hei kamu masih punya aku buat cerita, jangan kaya gini ra…” ucapku sambil mengelus” kepalanya.
Lalu dia melepaskan pelukanku, sambil menghapus air matanya dia mulai bercerita…
“kamu tahu pit ? ara, sebenernya udah punya pacar selain aku”
“maksud kamu ? kamu didua-in ara?” tanyaku seolah tak percaya
Dara menutup muka dengan kedua tangannya lalu menangis *lagi*
“bukan pit…bukan…tapi aku yang jadi pacar keduanya…aku perempuan jahat yg merebut dia dari pacarnya…aku yg merusak hubungan mereka…aku pit…akuuuuu”
Kali ini tangisnya semakin menjadi dan aku hanya bisa diam mematung menatapnya.


Inikah dara yg aku kenal ??? wanita yg tak pernah menyakiti siapa pun, wanita yang rela mengalah demi apapun yang dia cintai, ini kah kamu ra ??? menyakiti hati perempuan lain…
“ini bukan kamu ra…” kataku
“kamu ga begitu, kamu ga akan merusak hubungan siapapun…ia kan ra ?? ini bukan kamu kan ?” tanyaku sambil memegang kedua pundaknya.
Kepalaku rasanya pusing sekali, siapa perempuan yg ada dihadapanku ini ??? perempuan yang sudah kukenal sejak kami sama-sama belum mengenal apa itu cinta, perempuan yang menjadi separuh bagian hidupku…ini bukan kamu…
“pit, jangan benci aku karna ini…tolong jangan benci aku…Cuma kamu yg aku punya, Cuma sama kamu aku bisa bercerita…tolong jangan benci akuuu”
Sama-sama menjadi anak tunggal membuat kami tergantung satu sama lainnya, walaupun karna kesibukan, kami jadi jarang bertemu tapi kami sll berkomunkasi dengan baik, dan aku tahu ada yang salah dengan semua ini. Ya Tuhan dara…apa yang terjadi ??
“cerita sama aku jangan setengah-setengah gini ra…aku ga ngerti, kamu pacar ara, tapi kamu pacar keduanya ? kamu rebut dia dari pacarnya dan akhirnya kamu dibenci keluarga ara ?? gitu maksud kamu ?? tanyaku panjang lebar
Dara diam…kemudian berkali kali menarik nafas panjang berusaha agar tangisnya bisa dia kendalikan.
“waktu pertama kenal ara aku ga tau dia punya pacar, dia juga ga pernah cerita sama aku pit…setelah kita sama-sama, dia baru certain semuanya, kalo dia udah punya pacar…mereka LDR” ceritanya kembali terhenti, seperti ada sesuatu yg membuat lidahnya kaku untuk berbicara.
“aku ga bisa pergi tinggalin dia pit, ga bisaaa…aku ga bisa lepasin dia…aku sayang dia…aku ga mau kaya giniiiii…kenapa dia ga bisa Cuma buat aku aja pit…kenapaaaa…” kali ini dara menjerit histeris, seketika kupeluk lagi tubuhnya yg bergetar…
Ya Tuhan dara…rasa sakit yang dia rasakan entah kenapa bisa aku rasakan, dadaku sesak sekali, lalu air mataku pun menetes…
Sambil memeluk dara aku katakana “ra…aku tau ini sakit…sabar ra…ada aku disini”
Dara hanya diam dan semakin mengeratkan pelukannya, membuat ku jadi susah bernafas…
Setelah beberapa menit, kucubit pipinya, “daraaa…aku bisa mati kehabisan nafas ini”
Lalu dara melepaskan pelukannya kemudian menatap wajahku
“kamu nangis ?”
“engga ra, aku kelilipan” jawabku sambil menjulurkan lidah
Sedetik kemudian dara tersenyum, “kamu ih, aku serius tau” candanya
“aku juga serius, aku kelilipan air mata kamu, hihihi” jawabku menggodanya


Beberapa puluh menit setelah drama-drama mengharu biru yang membuat aku terkaget” tak percaya, aku mengerti sekarang apa yang dara alami. Dia mencintai pria yang sudah memiliki kekasih, dara tidak salah bukan ? dia tak pernah tahu mengenai wanita itu. Ketika dia tahu, sudah terlambat untuk semuanya, dara terlanjur mencintai ara, begitu pula sebaliknya. Tetapi berat untuk ara, wanita itu sudah dikenalkan ke keluarganya, sehingga membuat dara terlihat seperti monster yang merusak hubungan ara dan wanita itu…tak ingin aku menyalahkan ara atas kebohongannya, tak juga menyalahkan dara karna diapun tak ingin kehilangan ara, mereka saling menyayangi dan menyakiti disaat yang bersamaan…entahlah ini terlalu membingungkan untukku…
Yang kulihat mereka sedang berusaha…untuk tetap bersama diatas segala pertentangan berbagai pihak yang menginginkan mereka berpisah…
Dara yang kukenal kuat kini rapuh, senyumnya kini hilang, berubah menjadi tangis panjang yg tak berkesudahan, aku tak pernah menyalahkan siappun untuk itu...
Aku lega, ternyata aku tak pernah kehilangan dara yg kukenal, dara yang kukenal saat ini hanya terluka…
Tak pernah ada jaminan untuknya tetap bersama ara…bisa saja itu terjadi…
Tapi wanita yg bersamaku saat ini, dara, akan mati-matian berusaha mempertahankan cintanya…
Seperti yang dara katakana kepadaku, 


“ketika kamu mencintai sesorang, kamu tak akan pernah melihat warna kulitnya, status sosialnya, atau bahkan darimana dia berasal dan seperti apa masa lalunya…karna cinta tak mengenal itu semua…maka manusia akan rela mengalami sakitnya cinta untuk bisa mengerti seperti apa rasanya bahagia”

Dara…seperti itukah cinta ??? rela menahan sakit yg teramat sangat ??? satu sisi aku merasa itu hal bodoh, tapi satu sisi aku berpikir itulah cinta, kamu akan memperjuangkannya, walaupun terasa menyakitkan. Bukan begitu ra ? J

Dear my lovely dara…ga perlu takut untuk menjadi sendiri dan menghadapinya, kamu akan selalu punya aku untuk bertahan, seperti kamu pun pernah menguatkan aku disaat” terburuk dalam hidupku (yg ini ga perlu dibahas disini kan ? hihihi).
Aku akan sll ada buat kamu, pundakku masih cukup kuat buat tempat kamu bersandar, dan tubuhku masih siap menerima pelukan” mu yg kadang buat aku susah bernafsas :p

Dara…selalu ingat…God (ALLAH) always GOOD…right ? J

0 komentar: