Pages

Jumat, 14 Juni 2013

Andai "Mereka" mengerti...

Untuk kesekian kalinya, wanita dihadapanku ini menyeka air matanya. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa, aku tak sanggup berucap satu kata pun, saat itu pilihan terbijak adalah menjadi pendengar yang baik untuknya saat ini.

Ku genggam tangannya yg terasa begitu lemah. Lalu aku bekata…
“Semua akan baik-baik saja”…kemudian tangisnya kembali pecah…aku tahu, semua tidak baik-baik saja untuknya. bibirku terasa begitu kelu. Aku diam, mematung memandangi wanita dihadapanku ini. Wanita yang selama ini ku kenal tegar dan tak pernah mengeluhkan apapun dalam hidupnya. Tetapi mengapa sekarang dia seperti ini ???
Berpuluh-puluh menit kuhabiskan waktu dengannya malam ini, berusaha meredakan tangisnya tetapi semua seperti sia-sia. Kutunggu sampai dia siap bercerita. Sepatah dua patah awal terasa begitu berat semua itu terdengar dari mulutnya, sesekali dia kembali terdiam dan menyeka air mata.

Kemudian…setelah wanita dihadapanku sudah bisa menghentikan tangisnya, dia mulai bercerita…


Katakan saja, wanita ini bernama Yuli, wanita manis yang memiliki seorang kekasih bernama…hmmm…sebutlah lelaki ini bernama Romi.  Mereka sudah bersama hampir  2 tahun, aku tak terlalu mengenal Romi, yang aku tahu, selama ini hubungan mereka baik-baik saja, itupun hanya dari cerita Yuli, dia menggambarkan bahwa Romi laki-laki yang baik dan selalu menjaga Yuli. tapi dibalik itu semua…aku tak paham bahwa hubungan mereka seperti menyimpan api dalam sekam…

Yuli menggambarkan betapa selama hampir 2 tahun ini, dia selalu saja mengalah agar hubungan mereka baik-baik saja, Yuli menekan segala ego-nya demi kebaikan mereka berdua, Yuli mengorbankan bukan hanya perasaan, bahkan juga materi. Karena Yuli ingin ini adalah laki-laki terakhir untuknya. Tetapi rupanya selama hampir 2 tahun ini pula Romi tidak pernah mengerti, selalu saja Romi mengeyampingkan Yuli. Bahkan tak jarang Romi seperti mengabaikan Yuli. Romi terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri, terlalu mengejar keinginannya sendiri tanpa pernah melibatkan Yuli.  Romi menata masa depannya sendiri, seolah Yuli hanya sebagai pelengkap dan penghibur saat jenuh saja.
Selama itu pula Yuli terus menerus mengerti, mencoba terus menerus memahami dan bersabar dengan semua tingkah dan perilaku Romi yang sering kali mengguratkan luka dihatinya.
Aku tak bisa berkata aku mengerti ! karena sungguh aku tak mengerti, bagaimana bisa Yuli bertahan selama itu dengan laki-laki yang hanya menomor satukan dirinya dan dunianya saja ???

Yang aku rasa sebagai sesama wanita bahwa Yuli hanya ingin dianggap ada, uhmm, bukan Yuli, tapi “Kami” (baca : wanita) lebih tepatnya hanya ingin dianggap ada, “Kami” tak selalu butuh laki-laki “Kami” berada disisi “Kami”, yang “Kami” butuhkan hanya perhatian dan dianggap ada. Apakah itu berlebihan ?

Selama hampir 2 tahun itu, memang tidak selalu Romi mengacuhkan Yuli, ada saat dimana Romi benar-benar ingin Yuli berada disisinya dan Romi benar” menjaganya, entah karena Romi benar” membutuhkannya sebagai kekasih atau Romi hanya butuh Yuli sebagai wanita yg selalu bisa memberikan kenyamanan untuknya. Pada akhirnya setelah sekian lama bertahan, Yuli menyerah…Yuli merelakan semua usahanya berakhir sampai dimalam itu.

Itupun setelah perdebatan panjang dan melelahkan dengan Romi. Disaat Yuli sudah menyerah dan lelah, saat itu Romi mati”an mempertahankannya dengan berbagai alasan. Mungkin Yuli hanya tersulut emosi saja, atau Yuli sudah benar-benar tak sanggup lagi…mungkin saja…atau saat itu Yuli anya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya…aku tak mau berspekulasi tentang itu, yang aku tahu, malam itu dia datang padaku membawa begitu banyak kesedihan…

Hmmm...malam itu, aku orang pertama yang Yuli temui setelah Yuli memutuskan hubungannya dengan Romi.

Sebagai kawan, aku bukan bermaksud mengumbar semua penderitaan dari sahabatku sendiri. Aku hanya berharap jika ada laki-laki diluar sana yg membaca ini mereka bisa mengerti, bagaimana seharusnya seorang laki-laki memperlakukan wanitanya...

Mungkin bukan hanya Yuli saja, kalian, bahkan akupun pernah merasakan hal yang sama, entahlah, mungkin sampai saat ini kadang aku merasa begitu, atau itu hanya perasaanku saja ???
Hei laki-laki ku, jika kamu membaca ini, kamu perlu tahu, aku tak pernah meminta lebih dari yg saat ini aku terima…aku hanya ingin kamu menyayangiku tulus, seperti aku menyayangi kamu J


Di akhir peremuan kami malam itu, sebelum pulang Yuli mengenggam erat tanganku , sambil menahan air mata yang masih menggenang dimatanya dia berkata

“Terima kasih pit…andai saja “Mereka” (baca:laki-laki) bisa mengerti”….
Dan aku hanya menjawab dlam hati saja “Ia Yul, andai saja “Mereka” mengerti…andai saja”…

Semoga hari ini kamu sudah menjadi lebih baik dan akan selalu baik-baik saja…peluk sayang selalu untukmu Yul J




0 komentar: