Pages

Jumat, 07 Desember 2012

Tiket untuk istriku


Dari jauh, ku lihat laki-laki itu berlari cepat sekali menuju loket penjuala tiket. Dari raut wajahnya, terlihat kekhawatiran yang sangat mendalam. Kerut-kerut diwajahnya terlihat semakin menegang ketika sedang berbicara dengan petugas penjual tiket kereta api hari ini.

Entah, apa yang sedang laki-laki itu kejar, dia tidak membawa tas besar berisi pakaian seperti yg biasa dilakukan banyak orang saat akan mendekati hari raya seperti sekarang ini. Hanya membawa 1 tas kecil yg aku rasa hanya cukup untuk beberapa potong pakaian saja.
Aku perhatikan, mungkin umurnya baru sekitar 28thn, wajahnya tampan, dan ada sedikit jambang yg menghiasi wajahnya. Lalu kulihat saat tangannya sedang menyeka peluh didahinya, ada sebuah cincin yg melingkar di jari manis tangan kanannya, aah, ternyata dia sudah menikah pikirku.

Aku hanya duduk terdiam disini, menunggu kedatangan suamiku yg baru akan kembali dari jawa sehabis mengunjungi kerabat kami. Karena kehamilanku sudah menginjak bulan ke 8, jadi kami akan berlebaran di Jakarta saja.

Aku usap-usap perutku yang semakin hari semakin membesar ini, sesekali aku rasakan anakku menendang-nendang, ah mungkin anak ini rindu ayahnya kataku dalam hati. Sesaat kemudian mataku berputar-putar mencari lelaki tadi. Ku lihat ke arah loket penjualan tiket yg tadi dia datangi ternyata dia tidak ada disana, lalu kulihat penjual” asongan disekitarnya, siapa tahu saja lelaki tersebut sedang membeli minuman, aaah, tidak ada juga.

Lalu, tak berapa lama, saat ku menengok ke belakang kulihat lelaki tersebut tengah berbincang dengan seorang lelaki muda lainnya, mungkin temannya ? atau kerabatnya ? entahlah. Tetapi karena jarak mereka denganku tidak terlalu jauh aku bisa mendengar percakapan keduanya

“Mas, tolonglah saya mas, istri saya akan melahirkan mas, saya harus menungguinya, saya butuh tiket untuk menemaninya”
Lalu lelaki muda yg di ajaknya berbicara menjawab
“Aduh, bagaimana ya mas, saya juga perlu tiket ini, saya ingin melamar kekasih saya disolo besok,, keluarga saya juga sudah mempersiapkan semuanya mas ”
“Mas, tolong lah mas, saya akan bayar berapa saja untuk tiketnya, saya sudah berusaha mencari tiket pesawat tapi sudah habis, tiket bus juga sudah tidak ada yg tersisa,”.
“Mas, maaf seklai mas, saya tidak bisa bantu, coba cari calon penumpang lainnya saja” lalu pria muda itu pergi berlalu.

Air mata mengalir dipipinya,dan lelaki itu berdiri hanya berdiri mematung disana. apa yang terjadi dengan istrinya ? apakah ada yang salah dengan kehamilan istrinya ? apakah ada hal buruk yang terjadi dengan anak yg sedang dikandung istrinya ? semoga saja tidak. Lalu aku memandang perutku yg sedari tadi terus merasakan tendangan dari dalam, anakku mengerti kah kamu dengan apa yang sedang lelaki ini rasakan, nak ?
Lalu ku lihat jam di hp ku, kalau tidak terlambat makan kereta yang membawa suamiku akan tiba 10 menit lagi. saat aku akan memasukkan hp kedalam tasku, aku kaget, karena tiba” saja ada seseorang yang telah duduk disebelahku. Saat aku menenggok, hei, ini lelaki itu !

Lelaki itu memandangiku, lalu dalam tangisnya dia tersenyum. Aku kikuk dibuatnya, apakah aku harus membalas senyumnya itu, atau aku harus diam saja menatapinya dengan jarak sedekat ini ???
“Mas, apakah mas baik” saja ?” tanyaku perlahan
Lelaki itu hanya terdiam dan tetap menatapku dalam masih sambil tersenyum
“Mas, apakah mas baik” saja ? “ tanyaku kembali,
“sedang apa mbak disini ?” tanyanya datar
“saya sedang menunggu suami saya, mas tidak apa” ?”
“saya sedang ditunggu istri saya yg akan melahirkan mbak, terjadi komplikasi dalam kehamilanya. . . .” lalu tangisnya pecah.
“saya berusaha kesana kemari mencari tiket pulang, tetapi tidak ada satu orang pun yg mau membantu saya” jawabnya sambil memegang kepalanya yang tertunduk.
Aku duduk mematung menatapnya, “sabar mas, istighfar,semoga Allah memberikan kemudahan”
Lalu tak berapa lama, hp dikantongnya berdering, dengan secepat kilat lelaki itu mengambilnya
“Ya, waalaikumsalam bu, bagaimana keadaan nining bu ? bu, aku sampai sekarang belum dapat tiket untuk pulang bu”
Lalu lelaki itu diam mendengar jawaban dari ujung tlp, entah apa yang didengarnya, lalu tiba” semua kecemasannya seolah hilang.
Aku mengira itu pasti adalah kabar yg membahagiakan, mungkin saja istrinya sudah melahirkan.
“Ia bu, aku akan segera pulang menemui istri dan anakku” lalu lelaki itu mematikan sambungan tlp ditangannya.
“Mas, anaknya sudah lahir ?”tanyaku penasaran
“Ia mba” jawabnya sambil tersenyum
“Selamat ya mas” kataku sambil memgulurkan tangan menjabat tangannya.

Tak berapa lama aku mendengar sayup” ada suara laki” yang memanggil namaku
“Ntaaaaa, ntaaaaa”
Mataku mencari-cari suara itu,,suara yang sangat kukenal, suara suamiku
Lalu aku berdiri dan lelaki disebelahku juga ikut berdiri.
Suamiku datang menghampiriku, lalu aku mencium tangannya, lalu suamiku melihat pria disampingku
“siapa nta ?”
“aku juga baru kenal, katanya lagi cari tiket buat pulang, mau nemenin instrinya melahirkan, tapi tadi sudah dapet tlp istrinya udah melahirkan lho” jawabku riang
Lalu suamiku tersenyum sambil mengulurkan tangan kepada lelaki itu
“kenalkan saya suami nya sinta”
Lalu mereka mersalaman “nama saya haris” jawab lelaki itu
Oooowh, jadi namanya haris, kataku dalam hati
“jadi, mas haris masih butuh tiket dihari ini untuk pulang atau mau menunggu besok hari ?” tanyaku, “kan anak mas haris sudah lahir” sambungku kembali dengan riang
Lalu haris tersenyum dan menjawab “saya tetap harus pulang mba sinta, saya butuh tiket untuk menghadiri pemakaman anak dan istri saya, anak saya memang sudah lahir, tapi anak saya meninggal menyusul ibunya tidak lama setelah istri saya melahirkan, saya harus mengantarkannya menuju jannah ”

Lalu seketika saja hilanglah senyum dari wajahku . . .
Aku merasa tiba” saja bumi yang ku pijak bergelombang, dan semakin lama semakin gelap. . . .
Yang bisa kudengan hanya suara suamiku yg terus menerus memanggil namaku yang kurasa semakin lama semakin jauh. . . .


0 komentar: