Pages

Sabtu, 21 April 2012

Ayah untuk anakku

Suasana di restauran ini terasa begitu tenang, lilin-lilin kecil menghiasi setiap meja yang ada. sungguh terlihat romantis. terlihat beberapa pasangan sedang makan makan, dan beberapa lagi sedang asik mengobrol.
Kemuadian kutatap lelaki dihadapanku, dia tersenyum, sambil sesekali meminum kopinya. Parasnya tampan, terlihat dari gaya berpakaiannya, dia adalah lekaki yang mapan. Aku hanya terdiam sambil mengelus perutku yang sudah mulai membesar. Ya, aku sedang hamil, dan kandunganku sudah menginjak bulan ke 4.

“kamu mau makan apa ? kasian bayimu pasti lapar, aku pesankan soup ikan special ya ? ” tanya lelaki tampan dihadapanku
“ga usah, aku belum lapar mas, nanti aja” 
Lelaki itu tersenyum lagi, seolah dia mengerti kegelisahan yang sedang aku hadapi. Lelaki yang sedang bersamaku kini  bukan suamiku, dia juga bukan ayah dari bayi yang sedang kukandung. Dia seorang lelaki yang ayah kenalkan padaku dulu, saat kami masih sama” dibangku kuliah, dia anak teman ayahku, dia yang dulu pernah ayah jodohkan padaku, dan aku menolaknya mentah”, aku yang lebih memilih pria lain, yang kuanggap lebih baik darinya, pria yang akhirnya menghamiliku, dan pergi meninggalkan aku begitu saja ! pria yang menorehkan luka yang begitu pekat dlam kehidupanku.
“aku ga bisa mas, aku buka perempuan yang baik untuk kamu, liat aku. Aku hamil, dan ini bukan anakmu” suaraku memecah kesunyian yang sedari tadi mengelilingi kami.
Lelaki itu terdiam, sesaat kemudian dia menjawab
“gadis, dulu kamu menolakku karna kamu lebih memilih pria itu, aku mengerti. Dan kini, saat aku memintamu lagi, alasan itu kah yang kau pakai untuk menolakku kedua kalinya ?”
Ku tatap matanya, ku tahu, laki’ ini tulus mencintaiku, mau menerima keadaanku, tapi. . . aku masih butuh waktu, aku masih merasa gamang untuk menerima lagi kehadiran seorang pria dlam kehidupanku.
“baik, aku akan bantu kamu mencarinya, jika suatu saat dia kita temukan, dan dia bersedia bertanggung jawab untuk bayimu, maka aku akan pergi dan takkan pernah menganggumu lagi. Tapi jika dia tidak bersedia bertanggung jawab, maka aku yang akan menikahimu, aku yang akan menjadi ayah dari anakmu”
Tiba” saja aku merasa sesak sekali, kepalaku terasa berat, air mata mulai mengenang di sudut mataku.
“aku tidak ingin mencarinya. . . . . . sudah cukup aku berusaha untuk menghubunginya , dia benar” tidak menginginkan aku lagi, terlebih anak ini” ku tarik nafas dalam-dalam
“aku tak butuh dia untuk menjadi ayah bayiku, aku bisa membesarkannya sendirian, tolong jangan ingatkan aku lagi tentang dia” kini air mataku sudah tumpah tak tertahankan lagi.
Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiriku, menyeka air mataku dan mengamitku untuk segera pergi dari tempat itu.
“kita pulang ya ? kamu lelah”

^^^

Sudah dua minggu sejak pertemuanku dengannya malam itu, dia tidak pernah lagi menghubungiku. Sms & telfonnya yang biasa menemaniku, kini tak ada lagi.hmmmm, jujur, aku sedikit merindukannya. . ..
“gadiiis, ayo turun nak, kita sarapan” suara ayah membuyarkan lamunanku pagi ini
Setelah merapihkan rambut, ku segera turun menemui ayah yang telah menungguku di ruang makan
“pagi yah” sapaku sambil mencium kening pria yang sudah 10tahun ini membesarkan aku seorang diri, semenjak ibuku meninggal dalam kecelakaan.
“pagi sayang, bagaimana ? kamu masih mual pagi ini ?”
“engga yah, sudah mulai berkurang” jawabku sambil tersenyum
Sesungguhnya, aku merasa malu sekali, aku merasa begitu menyesal, telah mengecewakannya. Ayah yang dengan lapang dada tetap menerima aku sebagi putrinya walaupun aku telah mencoreng mukanya. Aku yang telah memupuskan harapan-harapannya. Aku yang hamil . . aah, ayaaah, aku sungguh berdosa sekali padamu.
“dis, kamu sudah tahu kan ? kalau mulai hari ini dimas akan tinggal dengan kita ?” tanya ayah sambil mengambil nasi goreng dihadapannya.
“hah ? apa yah ? kenapa ? kenapa mesti dimas tinggal disini sih yah ?” jawabku dengan sedikit kesal
“kamu kan tahu, sudah 1 bulan ini dimas tinggal dijakarta, dan dia tinggal di apartment, kasihan kan kalo dia tinggal sendirian, lagipula, dia kan calon suami mu, di rumah ini hanya ada kamu, ayah, bibi dan pak adin saja, kalau ada dia pasti suasana akan lebih ramai, ya kan ?”
“ayah, aku belum memutuskan hal itu” kataku datar
“ayah mengerti, tapi kamu mau sampai kapan akan seperti ini ? anak dalam perutmu semakin membesar dis, kamu butuh seorang pria untuk mebesarkannya, anakmu butuh sosok pria dalam hidupnya”
“tapi yah. . .”
“kamu tahu, ayah seorang yang berfikiran terbuka untuk apapun, ayah bisa menerima keadaanmu sekarang ini karena ayah yakin, dibalik semua cobaan ini, akan ada hal baik untukmu, untuk ayah, untuk kita semua dis, ayah terima kalau kamu tidak menikah dan memilih untuk membesarkan bayimu seorang diri. Tapi anakmu nanti ? dia akan butuh sosok pria dewasa sebagai ayahnya. Dan kamu tahu, semakin hari ayah semakin tua, tak selamanya ayah akan bersamamu, ayah ingin sebelum ayah pergi ada pria yang bisa menjagamu dan anakmu, belum lagi pandangan orang" sekitar kita dis, tolong fikirkan hal itu”
Perbincangan ku dengan ayah tadi pagi sungguh membuat hatiku semakin kalut. Aku belum siap untuk dimas, aku butuh waktu untuk menerimanya, tapi aku juga tak mau terus menerus membuat ayah kecewa dengan pilihanku yang mungkin saja keliru.

^^^
Tin tin tiiiiiiin
Hhm, suara klakson  mobil dimas sepertinya, kataku dalam hati. Kemudian aku berjalan membukakan pintu untuknya.
Ku lihat laki” tampan itu turun dari mobilnya kemudian mengeluarkan beberapa koper besar dari bagasi.
“hai dis, maaf ya, aku dateng terlalu malam, om kemana ?” tanyanya sambil mengangkat beberapa koper yang baru saja dikeluarkannya.
“ayah keluar mas, ada janji pertemuan sama teman bisnisnya, biar aku bantu ya ? “
“eits, ga usah, kamu duduk aja di dalem, aku udah tau kok, kemana harus bawa koper” ini, pasti kamarku disebelah kamar om, ia kan ? hehehe”
“ia” jawabku sambil tersenyum dan berlalu menuju ruang tamu

Tak berapa lama setelah dia membereskan barang”nya dan mandi. Dimas menemuiku di ruang tamu.
“makasih ya dis, kamu repot” beresin kamarnya”
“gpp, tadi aku ga ada kerjaan, dari pada diem aja, aku bantu” bibi beresin kamar buat kamu” kataku sambil mengisi orange jus ke dalam gelas kosong untuknya.
“ minum mas”
“ya, makasih dis” tak butuh waktu lama orange jus itu sudah berpindah kedalam perutnya.
“dis, maaf ya, semenjak pertemuan kita waktu itu, aku ga hubungin kamu”
“ia, gpp, mungkin kamu lagi sibuk” jawabku sambil tersenyum
“hmm, bagaimana kandunganmu ? sehat ? sebenarnya, setelah pertemuan kita waktu itu, aku langsung menghubungi om, aku tanya apa aku boleh tinggal disini”
Aku terdiam, memikirkan bagaimana laki” ini begitu berusha untuk mendapatkan hatiku, berusaha agar aku bisa menerimanya dalam kehidupanku.
“keluargamu di surabaya tahu ?”
“ia dis, mereka tahu, papa dan mama titip salam buat kamu dan om, mereka belum bisa kesini buat nenggokin, maaf ya”
“salam balik buat om dan tante”
Kemudian suasana diruangan itu hening, aku hanya bisa menunduk sambil mengelus” perutku. Sedangkan dimas hanya terdiam menatapku yang sedari tadi berusaha untuk tak menatap matanya.
“dis, aku hanya tinggal disini sampai anakmu lahir, aku tak akan tinggal lama jika memang itu keinginanmu”
aku angkat kepalaku, kemudian ku tatap matanya
“sampai anak ini lahir?” tanyaku bingung
“ia, aku sudah membicarakan ini dengan orang tuaku dan om”
“mas, apa maksudnya aku ga ngerti ? aku ga bilang aku usir kamu kan ?” tanyaku kembali
“ia, kamu emang ga usir aku, tapi ini perjanjian antara aku, om, dan kedua orang tuaku. Kamu tahu dis, sewaktu orang tuaku tahu kamu hamil, mereka kecewa sekali, terlebih saat mereka tahu aku masih begitu mengharapkan kamu untuk menjadi istriku. Butuh waktu sampai akhirnya mereka bisa menerima keputusanku itu. Kini mereka sudah bisa menerima kamu, dan bayimu, begitu juga dengan om, jangan kamu pikir saat aku meminta kamu, om langsung menyetujuinya dis . . .” kemudian kata”nya terhenti
Aku terdiam, begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku
“waktu itu om juga sempat menolakku, aku berusaha mati”an untuk meyakinkan om, aku mengerti, om tentu tak ingin putri satu”nya yang sangat dia cintai terluka kembali. Dan, ini lah aku, disini memenuhi perjanjian diantara kami, jika memang sampai kamu selesai melahirkan nanti belum bisa menerimaku, maka aku akan mengalah, mungkin kselamanya kita hanya memang bisa menjadi teman, tetapi, jika kamu bisa menerimaku setelah melahirkan nanti, maka aku akan tinggal disini sebagai suami kamu, aku akan menikahimu dis” jawaban yang membuat aku tercekat, rasanya, lidahku kelu sekali.
“aku tak bisa menjanjikan apapun untuk mu mas, tapi jika itu memang keinginanmu, ayah, om dan tante, aku tak bisa menolaknya”
^^^

Hari-hari berlalu semenjak dimas pindah dan tinggal bersama kami. Seminggu, dua minggu, dan sudah beberapa bulan ini banyak sekali perubahan yang aku rasakan. Terlebih dirumah ini, ayah benar, dimas telah menghidupkan kembali suasana ceria di dlam rumah. Suasana yang hilang bersamaan dengan meninggalnya ibu. Suasana suram yangdatang saat ayah tahu mengenai kehamilanku, kini sudah tak ada lagi.
Dimas sudah menjadi bagian dari keluarga kami,dimas telah menjadi bagian dari keseharian kami, tetapi untuk mengakui semua itu, aku terlalu naif, aku terlalu malu, dan aku terlalu mengeraskan hatiku untuk tetap belum bisa menerimanya dalam hatiku.
Dimas yang selalu ada saat aku membutuhkannya, dimas yang selalu menemani aku saat malam” aku tak bisa tidur karena nyeri dipunggungku yang semakin menjadi’, dimas yang selalu perduli pada anak dlam kandunganku . . . .
Hingga pada suatu hari saat kedua orang tua, dan adik laki”nya datang berkunjung ke rumahku. Entah mengapa sedari pagi perutku nyeri sekali. Aku merasakan anak dlam kandunganku semakin banyak bergerak.
“mas, perutku sakit sekali” kataku sambil berbisik ditelinganya pelan
“kamu sudah mau melahirkan dis ?” tanyanya sambil mengerutkan kening
“kayanya, aku ga tahan lagi, perut aku sakit mas” jawabku sambil menggigit bibir
Tiba” saja dimas berdiri dan membuat semua orang terkejut
“om, gadis mau melahirkan !” teriaknya.
Seketika saja suasana dirumah menjadi gaduh, bibi segera menyiapkan perlengkapan yang akan aku bawa ke rumah sakit. Ayah, dan semuanya segera mengantarkan aku ke rumah sakit bersalin.
Beberapa lama kemudian aku sudah memasuki ruang persalinan, detak jantungku semakin tak menentu, aku begitu cemas, rasa nyeri yang sedari tadi aku rasakan semakin menjadi”. Dokter yang akan membantuku bersalin berusaha menenangkanku.
“ bu, saya akan panggilkan suami ibu untuk menemani ibu bersalin”
Belum sempat aku menjawab, tiba” saja dimas dan dokter tsb kembali masuk dalam ruang persalinan. Melihat hal itu aku terdiam, air mataku sudah sedari tadi basah mengaliri pipiku.
Dimas kemudian duduk disampingku, menganggam tangan kananku,
“ayo gadis, kamu pasti bisa, aku disini temani kamu” katanya menenangkanku
“dimas, jangan pergi, ” hanya itu yang bisa aku katakan kepadanya
Sedetik kemudian rasa ngilu yang hebat itu datang kembali, berkali-kali aku mengejan, tapi rupanya anak ini masih ingin berlama” dalam kandunganku. Ngilu di perutku semakin tak tertahankan. Rasanya aku sudah mati rasa akan sakitnya.
Tubuhku semakin lemas, tak bertenaga, air mata tak henti”nya keluar dari mataku.
“dis, ayo sayang sedikit lagi, kamu pasti bisa, sabar yaa. . . .” kemudian dimas mengecup keningku, kecupan yang sekian lama mungkin aku rindukan, kecupan dari seorang laki” yang mendampingiku saat aku rasakan antara hidup dan mati, kecupan yang memberikanku semangat luar biasa. Entah dari mana dtangnya, aku merasa kekuatanku terkumpul kembali.
Kemudian dokter berkata kepadaku
“ayo bu, sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat, dalam hitungan ke 3 mengejan lagi ya”
Dan, genggaman tangan dimas semakin kuat kurasakan. . . satuuuu,,duaaaa,,,,,aku berusaha mengejan semampuku dengan segala sisa” kekuatan yang kupunya. . .tiba” saja aku berasakan ada sesuatu yang keluar dari tubuhku. . .
“oeeeee,, oeeeeee,, oeeeeee” anakku telah lahir. . . . .
“selamat bu, anaknya laki” dan tidak kurang suatu apapun” dokter memberitahuku sambil mengangkat dan membersihkan anakku.
Aku merasa ini adalah saat” terindah dalam hidupku, ku tatap dimas, kulihat matanya memerah menahan genangan air mata.
“selamat dis, kamu sudah menjadi ibu” kemudian dimas menyeka air mata di pipiku
Aku terdiam, ku tatap wajahnya lekat”, terlihat kebahagiaan di raut wajah itu. Dadaku berdetak kencang, aku merasakan rasa itu ! rasa cinta yang tlah lama hilang, rasa yang begitu kuat untuk dimas. Rasa itu telah datang kembali. . .
Aku tersenyum, ku sentuh pipinya dengan tanganku. . .“kamu tahu mas, aku sudah menemukan ayah untuk anakku”
Kemudian dimas memelukku, hangat sekali. . .
Ku bisikkan padanya “aku tahu kamu akan menjadi ayah yang terbaik untuk anakku, dan aku adalah wanita yang paling beruntung bisa kau cintai”


3 komentar:

DewiFatma mengatakan...

hmmmm...mengharukan.
Pasti akan lebih keren kalau ada alinea diantara kejadian yang berbeda pada postingan panjang ini. juga akan lebih enak dilihat, kurasa :)

Jangan marah ya.. Hanya saran aja kok :)
Salam kenal kembali, Mee..

Mee mengatakan...

Hai Mba Dewi ^.^
waaaah seneng deh bisa mampir *kecup-kecup

hehe, ia gpp, makasi sarannya, next kalo mood lagi bagus bikin yg lebih rapi,

Johanes Gultom mengatakan...

mengharuhkan...
Tridinamika
Pulau tidung | wisata pulau tidung | paket pulau tidung
828bet.com agen bola terpercaya piala dunia 2014
Citra Indah | Citra Gran
Nano spray
Pinjaman Modal Usaha | Pinjaman Tanpa Jaminan | Pinjaman Tanpa Agunan